21/04/2024

Jakarta, KNEKS – Wahai manusia, makanlah daripada apa yang ada di bumi yang halal lagi baik. Demikian Al-Hafidz Ibnu Mardawaih meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Abbas bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Baqarah ayat 168

Lalu Sa’ad bin Abi Waqqas bangun dan berkata: Wahai Rasulullah, tolonglah berdoa kepada Allah SWT dan pintalah supaya doa aku ini diterima.

Maka, Baginda menjawab: Wahai Sa’ad, bersihkanlah makananmu dan percayalah doamu akan diterima oleh Allah SWTSesungguhnya jiwaku di tangan-Nya, seorang hamba yang makanannya dari sesuap benda yang haram ke dalam perutnya. Sesungguhnya Allah tidak akan memakbulkan doanya selama 40 hari dan setiap daging yang tumbuh daripada makanan yang haram dan riba, maka api nerakalah yang layak baginya.” (HR. At-Thabrani, Ad-Durar al-Mantsur fi Tafsir bil Ma’tsur juz II hal 403)

Bunyi hadis tersebut selalu dipegang kuat dalam hidup ilmuwan dan ahli bioteknologi Indonesia Profesor Irwandi Jaswir. Ia mengaku selalu mengingat terus hadis ini dalam menerapkan gaya hidup yang sesuai syariat Islam, gaya hidup halal.

“Saya ingatkan terus, makanan yang kita makan ada pengaruhnya dengan doa kita, makanan haram yang dimakan akan menyebabkan doa kita akan ditolak Allah SWT. Jadi, kita bisa bayangkan betapa hidup ini tidak ada berkahnya bermain-main dengan perkara yang haram,” tegasnya.

Ia menerangkan tuntutan syariat untuk muslim adalah hal yang fundamental. Doa tidak akan dikabulkan oleh Allah kalau tidak menerapkan gaya hidup yang halal, seperti makan yang halal. Hal itu bukan hal remeh, esensinya adalah kepatuhan kepada Allah.

Lebih jauh, mengenai arti dari gaya hidup halal, jika dipisah kata per kata. Irwandi menjelaskan, dalam kata gaya hidup, biasanya ini berkaitan dengan pola hidup sehari-hari yang umumnya tiap-tiap orang berbeda-beda, tergantung pada standarnya atau tergantung dari nilai-nilai yang dianut, prinsip yang dianut, bahkan agama yang dianut. Dari sini, bisa dikatakan, gaya hidup tergantung dari nilai-nilai apa yang diadopsi.

Sementara untuk halal artinya dibolehkan secara agama, dalam hal ini Islam. Secara umum halal ini prinsipnya jelas dan seragam karena sumbernya itu Al-Qur’an dan sunah. Jadi, gaya hidup halal artinya gaya hidup keseharian yang dibolehkan dalam Islam.

Selain itu, gaya hidup halal bukan hanya bicara kehalalan saja, bukan hanya bicara syariat, tapi juga thoyyib atau baik.

Para ilmuan menafsirkan thoyyib dengan lebih detail. Misalnya, ahli nutrisi berpendapat, thoyyib adalah tidak adanya efek samping, ada juga yang mengatakan thoyyib yaitu menu seimbang atau yang tidak berbahaya. Sementara para ahli yang lain bisa saja mendefinisikan thoyyib berbeda dengan ahli nutrisi.

“Pengertian thoyyib itu mungkin berubah-ubah dari zaman ke zaman, dari waktu ke waktu. Bisa jadi (thoyyib) itu hanya kebersihannya. Semuanya itu dianggap unsur thoyyib,” ujar Peraih Penghargaan Internasional Raja Faisal untuk Pelayanan Islam Tahun 2018 ini.

Dari definisi para ahli itu saja, dapat disimpulkan thoyyib itu bersih, menu seimbang, tidak ada efek samping, dan tidak berbahaya. Artinya, itu menunjukan ciri-ciri kualitas yang baik. Maka dari itu, tidak mengherankan bila memproduksi produk yang halal berarti memproduksi produk yang berkualitas. Sehingga yang menikmatinya bukan hanya umat muslim, tapi juga untuk semua umat manusia.

Banyak sekali bukti-bukti yang menunjukan orang lebih memilih produk halal. Bukan hanya muslim, tapi juga dikalangan non-muslim. Sebagai contoh, Selandia Baru merupakan salah satu pengekspor terbesar daging halal di dunia. 65 persen dari daging halal itu diekspor ke negara-negara non-muslim.

Terlebih, bila berbicara negara-negara maju, biasanya mereka lebih melihat standar kualitas. Produk halal yang memiliki kualitas baik diterima di negara maju dan bahkan saat ini produk halal mulai menjadi tren.

Saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, produk halal menunjukan relevansinya. Di awal-awal cerita pandemi, sempat dikabarkan bahwa virus ini berasal dari sebuah pasar hewan di Wuhan, Tiongkok.  Pasar tersebut menyediakan daging-daging eksotik dari binatang-binatang yang tidak biasa dikonsumsi oleh manusia atau dilarang dalam Islam.

Walaupun kabar ini masih diperdebatkan benar atau tidaknya, tapi menurut Irwandi, paling tidak apa yang sudah digariskan sebagai halal dalam perspektif Islam adalah betul-betul sesuai dengan fitrah manusia untuk tidak mengonsumsi daging dari hewan eksotik tersebut. Jadi Covid-19 menunjukkan bahwa saat ini eksistensi halal betul-betul relevan.

Kemudian, bila mengikuti gaya hidup halal, seperti berwudu, di mana didalamnya melakukan cuci tangan, kumur dan mencuci hidung, sebetulnya sesuai dengan praktik gaya hidup yang dianjurkan oleh para pakar di era new normal.

Ia kemudian juga mengatakan bahwa ada potensi bagi para peneliti muslim dalam pengembangan vaksin halal. Vaksin untuk COVID-19 saat ini menjadi tanggung jawab dan tantangan besar bagi para ilmuwan di muka bumi. Untuk pengembangbiakan vaksin halal, tentunya perlu menjaga seluruh prosesnya agar sesuai dengan prinsip halal dan thoyyiban. Hal ini menjadi wake-up call bagi seluruh ilmuwan untuk terus mengembangkan sektor farmasi halal.

Lebih lanjut, Irwandi menerangkan sebelum dan saat Covid-19 ini, gaya hidup halal sudah menjadi tren. Gaya hidup halal semakin mendapat tempat. Dari makanan dan aspek-aspek lainnya, masyarakat semakin memperhatikan. Sehingga semuanya dijadikan gaya hidup, termasuk dari sepatu. Di Singapura dijual sepatu, lapisannya terbuat dari kulit babi. Perhatian ini menunjukan kesadaran akan gaya hidup halal di berbagai sendi kehidupan.

Gaya hidup halal diiringi industri halal yang juga semakin menjamur. Industri halal merupakan industri kegiatan atau aktivitas yang bertumpu pada penyediaan barang dan jasa yang patuh syariah atau yang sesuai dengan aturan Islam.

Industri halal mencakup banyak aspek, jika dahulu orang berbicara tentang industri halal lebih kepada industri makanan atau industri pangan, kemudian ketika kesadaran semakin meningkat, orang sudah mulai melihat semua aspek yang lain.

Namun, industri makanan itu sendiri jumlahnya kurang dari seperempat dari industri halal. Sedangkan separuhnya hampir lebih banyak dikontribusikan oleh kosmetik, pharmaceuticalpersonal case, dan segala macamnya, sedangkan seperempat lagi dari servicesServices dalam arti disini adalah halal logisti, misalnya halal supply chain.

Di Indonesia, industri halal berpotensi berkembang dengan baik. Hal ini karena Indonesia merupakan negara besar dengan paling tidak ada 225 juta penduduk muslim.

Dengan pasar yang seperti itu, kemudian didukung sumber daya alam yang luar biasa, Indonesia bisa leading di Industri halal. Kunci untuk mencapai itu adalah dengan menumbuhkan kesadaran di semua lapisan masyarakat.

Pandemi Covid-19 memberikan dampak pada industri halal. Bukan hanya untuk Indonesia tapi juga dunia. Kegiatan produksi industri halal menjadi terbatas, bahkan ada yang tutup.

Data dari Dinar Standard Index menunjukan sektor pangan dan farmasi itu sangat minimum atau malah tidak ada dampak. Hal itu bisa dimaklumi, karena dalam kondisi apapun orang perlu makan.

Sementara sektor lain cukup berpengaruh. Sektor yang bisa dibilang terkena dampak tingkat medium itu kosmetik. Lalu, sektor yang sangat terdampak adalah pariwisata.

Meski tidak dipungkiri industri halal terkena dampak dari pandemi, Irwandi yakin industri halal mampu mendorong kebangkitan perekonomian nasional. Menurutnya, industri halal adalah mesin baru untuk pertumbuhan ekonomi. Masyarakat Indonesia semakin sadar akan pentingnya gaya hidup halal. Dengan begitu, industri halal masih potensial untuk dikembangkan. 

Di tengah pandemi sekalipun, diungkapkan Irwandi, banyak orang-orang kreatif yang berhasil mengembangkan produk-produk halalnya. Satu hal yang mungkin terlihat jelas sekarang adalah bahwa selama pandemi ini teknologi digital semakin meningkat. Bila pandai mengemas dan menjual produk halal secara digital dapat menjadi potensi yang sangat luar biasa.

Ia mencontohkan, ada suatu platform digital sebuah perusahaan teknologi yang mengklaim dirinya ini bukan sekedar e-commerce, tapi sudah social commerce. Perusahaan ini menyediakan platform e-commerce yang fokus pada industri-industri kecil, seperti Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Para industri halal di pelosok Indonesia juga sudah termasuk dalam jangkauan platform ini. Dalam 2 tahun ke depan, target jangkauan platform ini adalah penyebaran di 45 negara.

 “Menurut saya ini suatu yang luar biasa, karena saya menghadiri peluncurannya dan mereka sudah exist beberapa tahun,” ujarnya.

Sebagai gambaran, tahun 2018 perusahaan ini sampai mensponsori klub sepak bola asal Inggris, Manchester United (MU) dengan biaya 100 juta ringgit pertahun. Setiap MU mencetak gol, logo platform ini keluar di dalam stadionnya.

Irwandi menambahkan, memanfaatkan teknologi digital dengan baik akan menjadi solusi saat pandemi. Beraneka macam produk bisa dijual lewat digital saat pandemi seperti sekarang.

“Jadi ide-ide seperti ini yang harus kita tumbuhkan digenerasi-generasi kita. Biasanya anak-anak milenial lebih kreatif dibandingkan orang-orang yang sudah berumur,” pungkas Irwandi.

Penulis: Andika & Aldi
Redaktur Pelaksana: Ishmah Qurratu’ain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *