21/04/2024

SUATU kali, guru diniyyah kampung saat saya kecil bercerita. Isi cerita itu hingga kini masih terngiang dalam ingatan saya. Selain sebagai guru, dia juga seorang petani yang rajin bekerja di ladangnya. Setiap pagi ke sawah dan siang hingga sore dia mengajar di Madrasah Diniyyah (Madin).

Pak guru bercerita di hadapan murid-murid Madin, termasuk saya. Saat dia bekerja di sawah, tetiba ada seorang warga yang betul-betul menguji kesabarannya. Orang tersebut yang nota bene pemilik sawah sebelahnya sengaja menutup saluran air yang mengalir ke bagian sawah sang guru, sementara aliran air tersebut masih sangat dibutuhkan untuk tanaman padi.

Saat ditegur atau diingatkan, orang tersebut justru marah-marah kepada sang guru dengan kata-kata kasar dan menantang untuk “duel“. Pak guru seperti kena “pancingan” untuk memberi pelajaran orang tersebut. Lalu dia buru-buru beristighfar, dan berkata: “tolong jangan ganggu saya, saya sedang berpuasa”. Begitu pak guru memperingatkan, sekaligus menasehati dirinya sendiri.

Ya, pak guru betul-betul mencoba mengendalikan tekanan amarahnya dengan menyadari bahwa dirinya sedang berpuasa. Dia mencoba mampu mengendalikan amarahnya agar puasanya tetap menjadi perisai bagi dirinya. Memang berat, tapi pak guru bisa.

Apa yang diceritakan guru Madin tersebut sesuai dengan sebuah hadis Nabi: “Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata-kata kotor, dan jangan pula bertindak bodoh. Jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan: “sesungguhnya aku sedang berpuasa”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar mengatakan: “Termasuk yang dianjurkan adalah jika seseorang dicela oleh orang lain atau diajak berkelahi ketika dia sedang berpuasa, maka katakanlah: “Inni shaa-imun, inni shaa-imun” (aku sedang puasa, aku sedang puasa) sebanyak dua kali.

Hadis Nabi di atas dengan jelas menunjukkan bahwa puasa benar-benar mengajarkan kita untuk bersikap lemah lembut kepada sesama, meskipun dalam kondisi lapar dan haus membuat orang cepat naik darah. Sungguh, gambaran akhlak yang sangat luhur. Lemah lembut adalah akhlak para nabi, perilaku orang-orang terhormat dan mulia. Dengan lemah lembut membuat seseorang akan semakin mulia.

Karenanya, saat Urwah bin Zubair dicela orang lain dengan kata-kata jelek, ia dengan tenang cukup berkata: “inni atrukuka raf’an linafsi” (aku membiarkanmu hanya untuk membuat diriku lebih mulia).

Alkisah, ada seorang alim (sufi) ditemui oleh tetangganya, seorang anak muda iseng. Bukan sekedar itu, dia betul-betul ingin membuat sang alim marah. Anak muda berkata, “Ya syekh, aku mengundangmu datang ke rumahku nanti malam. Aku ada perlu denganmu.” Sang alim menyanggupinya. Saat malam tiba, sang alim mendatangi rumah anak muda tersebut untuk memenuhi udangannya.

Saat sang alim sampai di rumahnya, anak muda tersebut berkata: “Wahai syekh, mengapa anda datang ke rumahku? Dia menjawab, bukankah engkau mengundangku malam ini? Anak muda tersebut menyangkal, memang siapa yang mengundang anda? Aku tidak ada perlu dengan anda,” cetusnya. Lalu syekh menjawab, “Baiklah, kalau begitu saya pamit pulang,” tegas sang alim.

Pada hari yang lain, saat anak muda bertemu lagi dengan syekh alim tersebut dan menyampaikan hal sama bahwa dia mengundangnya datang ke rumah. Saat syekh memenuhi undangannya, lagi-lagi si anak muda tersebut menyangkal. Bahkan kejadian seperti ini hingga tiga kali. Anehnya, sang alim tersebut tidak marah sama sekali.

Karena penasaran, sang anak muda bandel lalu berkata: “Wahai syekh, kenapa anda tidak marah sama sekali ketika aku “kerjain” untuk datang ke rumahku dan aku menyangkal?” Dengan lembut sang alim menjawab: “Wahai anak muda, aku memenuhi undangan datang ke rumah tetanggaku sebagai kewajiban agama. Semata-mata karena Allah. Jadi bukan karena kamu.”

Sikap tenang dan sabar sang alim tersebut menggambarkan betapa beliau sudah sampai pada titik di mana kesadaran spiritual tertinggi telah dicapai. Nilai-nilai moral beragama benar-benar diresapi dan dijalani. Orang yang beragama secara mendalam dipastikan dia memiliki kearifan. Mampu mengendalikan tekanan amarah, mengendalikan hawa nafsunya, dan mengendalikan seluruh kesenagan-kesenangan materialnya.

Demikian juga orang yang sedang berpuasa, dituntut agar puasanya menjadi “rujukan moral” sehingga mampu membentuk pribadi yang baik. Orang yang mudah marah, secara psikologis, menggambarkan karakteristik seseorang. Dalam sebuah studi di Amerika menunjukkan bahwa, sekali marah akan mematikan sekitar 500 sel otak yang berjumlah milyaran di kepala.

Jika kita marah berkali-kali dalam sehari, maka berapa ribu sel otak kita terputus dalam sehari. Jika marah menjadi kebiasaan, atau marah-marah, maka jadilah ia memiliki daya ingat yang lemah. Rasulullah saw pernah menyampaikan pesan kepada kita, bahwa orang hebat itu bukan seseorang yang jago bertarung (berkelahi), tetapi orang-orang yang mampu mengendalikan amarahnya.

Semoga, puasa kita di bulan suci Ramadan ini dapat menjadi perisai jiwa kita untuk tidak mudah marah. Meskipun marah itu wajar sebagai ungkapan emosi yang dibolehkan, masih tetap lebih baik yang mampu mengendalikan (mengontrol) diri karena Allah swt. Wallahu a’lam bish-shawab.

Thobib Al Asyhar (Dosen SKSG Universitas Indonesia, Kasubdit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *